Senin, 07 Agustus 2017

JIKA JENDRAL GATOT DAN HABIEB RIZIEQ MENJADI CAPRES SIAPAKAH YANG AKAN MENANG?



Setiap warga negara Indonesia berhak menjadi presiden di Indonesia. Hanya saja, tidak semuanya bisa menjadi seorang presiden. Perlu kekuatan yang luar biasa untuk bisa menjadi orang Indonesia nomor satu. Selain itu, harus memiliki basis dukungan yang kuat. Basis dukungan yang kuat bisa dikatakan sebagai bekal utama seseorang yang ingin mencalonkan diri sebagai seorang presiden.







Mendekati Pilpres 2019, ada dua sosok yang sebelumnya tidak pernah diduga akan begitu populer untuk saat ini. keduanya bukan politikus dan kader partai, namun hal itu tidak menghalangi mereka untuk terkenal dan memiliki basis pendukung yang kuat.

JUDI BOLA ONLINE

Munculnya isu penodaan agama yang menjerat Ahok memberikan konsekuensi logis terhadap kepupuleran mereka berdua. Rizieq menjadi begitu populer di saat menjadi aktor utama dalam aksi demo yang telah memecahkan rekor Muri sebagai demo dengan peserta terbanyak. Tidak hanya sekali, Rizieq memimpin aksi demo hingga berjilid-jilid.

JIka Rizieq menjadi aktor utama dalam aksi demo, Gatot justru sebaliknya. Beliau menjadi aktor utama untuk meredam aksi demo serta menjamin keamanan. Gatot menjadi palang pintu utama untuk menahan gempura peserta aksi. Terlebih muncul isu bahwa aksi demo ditunggangi oleh oknum yang ingin melakukan makar. Nama Gatot semakin meroket karena dirinya berhasil meredam aksi demo.

Tidak berlebihan jika nama Gatot dan Rizieq disebut-sebut pantas masuk bursa calon presiden dengan melihat jumlah pendukungnya serta tingkat popularitas yang semakin tinggi. Pengamat politik Ujang Komarudin bahkan sampai menyodorkan simulasi menarik untuk Pilpres 2019 dengan memasang nama Gatot dan Rizieq sebagai calon Presiden untuk Pilpres 2019.





Menurut Ujang, baik Gatot ataupun Habib Rizieq sama-sama memiliki pendukung fanatik. Gatot, kata Ujang, paling tidak memperoleh dukungan dari keluarga TNI. Sedangkan Rizieq, bisa memanen dukungan dari FPI dan simpatisannya.

Namun, Ujang menyebut Gatot bakal lebih unggul dibanding Rizieq. Menurutnya, Gatot itu tentara, dan masyarakat juga rindu dengan sosok tentara, kemudian Gatot juga dekat dengan ulama juga. Apalagi, belakangan ini Gatot juga rajin turun ke daerah menemui berbagai kelompok masyarakat.

Selain itu, keunggulan Gatot dibanding Rizieq adalah soal kasus hukum. Gatot sejauh ini tak terseret kasus hukum. Kendati demikian, apabila semua kasusnya beres dan dihentikan oleh pihak kepolisian, maka Habib Rizieq bisa menjadi penantang bagi Presiden Jokowi. Apalagi Aksi Bela Islam sudah terbukti melambungkan nama Rizieq.

JUDI BOLA PARLAY

Pengamat politik sekelas Ujang Komarudin saya yakin tidak iseng membuat simulasi menarik seperti ini. Apa yang dikatakan beradasarkan fakta. Bahkan tidak mustahil jika tingkat popularitas mereka jauh di atas Amien Rais atau Prabowo. Fakta bahwa Rizieq mampu mengumpulkan massa untuk ikut aksi bela Islam tidak bisa disepelekan begitu saja.

Benar apa kata Ujang. Jika Rizieq tidak terjerat kasus, bukan mustahil jika tiba-tiba ada partai yang ingin mengusungnya sebagai capres atau cawapres. Bukan mustahil jika Rizieq menjadi pendamping Prabowo.





Efek aksi bela Islam memang terhitung dahsyat. Aa Gym yang sebelumnya tidak pernah diwacanakan akan menjadi calon gubernur Jawa Barat pun sekarang sudah digadang-gadang akan diminta oleh salah satu partai untuk bersedia menjadi calon gubernur Jawa Barat.

Beruntung sebelum nama Rizieq terus melambung, kasusnya segera terungkap. Rizieq tidak bisa melambungkan namanya lagi. Sekarang tinggal Gatot sebagai orang yang populer karena terkena efek aksi bela Islam yang tersisa.

Nama Gatot terus didengungkan sebagai sosok yang pantas untuk menjadi calon Presiden. Dirinya bahkan bisa menjadi penantang seirus Jokowi di Pilpres. Untuk mengantispasi hal ini, Jokowi disarankan untuk mennggandeng Gatot sebagai pendampingnya.

Salah satu faktor yang membuat Gatot dinilai berpotensi besar menjadi penantang serius Jokowi adalah karena beliau menapakkan kaki di dua pijakan yang berbeda. Gatot dielu-elukan oleh pendukung Jokowi karena jasanya meredam aksi demo. Di kubu lawan, Gatot juga dielu-elukan karena mengatakan bahwa tidak ada aksi makar dalam aksi bela Islam.

Jika Gatot sampai mencalonkan diri sebagai presiden, maka pendukungnya akan datang dari kubu yang berbeda. membandingkan Gatot dengan Rizieq memang tidak seimbang. Kemungkinan keduanya bertarung di Pilpres 2019 memang kecil. Namun bukan mustahil di Pilpres 2024 mendatang pertarungan keduanya benar-benar terjadi.


EmoticonEmoticon