Jumat, 16 Juni 2017

6 WANITA TANGGUH SESUNGGUHNYA (BUKAN WONDER WOMAN)

Saat tampil perdana pada 1942, dalam DC Comics berjudul Sensation Comics, Wonder Woman memicu kehebohan. Princess Diana of Themyscira atau Diana Prince itu menjadi sosok langka di dunia pahlawan super yang maskulin.
Mereka membuktikan bahwa kaum hawa juga bisa menjadi petarung tangguh dan panglima perang yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Berikut perempuan-perempuan jagoan dalam dunia nyata, yang kisahnya tak kalah dramatis dari Wonder Woman :


AGEN JUDI BOLA

Fu Hao, Sang Jenderal Perang


Fu Hao adalah satu dari 60 istri Kaisar Wu Ding dari Dinasti Shang. Namun, alih-alih hidup nyaman di istana atau asyik terlibat intrik sengit demi memikat sang penguasa dan jadi selir kesayangan, ia terjun ke medan perang.
Ia yang hidup sekitar 3.000 tahun lalu, pada Zaman Perunggu China, adalah perempuan pertama yang dikenal sebagai panglima perang pada masa Dinasti Shang, demikian menurut buku Women in World History: A Biographical Encyclopedia (Yorkin Publications) yang terbit pada 2002.

Informasi tentang dirinya diungkap dalam sejumlah teks kuno yang digoreskan di tulang maupun cangkang kura-kura.
Salah satunya, yang menjadi koleksi Gulbenkian Museum of Oriental Art and Archaeology di Inggris, menggambarkan bagaimana Fu Hao memimpin 3.000 tentara dalam sebuah aksi militer.
Para arkeolog juga menguak bukti soal pangkat kemiliteran dan kemampuan Fu Hao saat mereka menemukan makamnya di dekat Anyang, China, pada 1976.
Ada lebih dari 100 senjata yang ikut dikuburkan di sana -- yang mengonfirmasi statusnya sebagai pemimpin militer level atas, demikian menurut British Museum.
Makam Fu Hao, yang meninggal pada 1.200 SM, juga dilengkapi harta benda, termasuk ribuan objek ornamen, bejana perunggu, batu giok, tulang, opal dan gading.
Para arkeolog juga menemukan bagian tubuh 16 budak yang dikubur hidup-hidup -- untuk menemani sang jenderal di alam baka.

Si Cantik Penebas Kepala Lawan


Tomoe Gozen adalah samurai perempuan dari Jepang, pada masa akhir Abad ke-12. Ia dikenal, juga dikagumi, karena kekuatan dan keberaniannya.
Ia berperang di pihak Minamoto no Yoshinaka dalam Perang Genpei.
Kisahnya yang legendaris kali pertama muncul dalam epos ksatria Jepang, The Tale of the Heike -- serial narasi tentang kehidupan dan pertempuran mereka yang saling berhadapan dalam Perang Genpei.

Tomoe Gozen digambarkan sebagai pemanah terampil yang menjadi anggota pasukan Jenderal Kiso Yoshinaka. Ia mengenakan baju besi berat dan membawa pedang dan busur yang sama-sama besar.
Saat Yoshinaka diserang dan terluka parah, ia membela panglimanya mati-matian. Tomoe Gozen beradu pedang dengan samurai dan menebas leher lawannya itu, demikian menurut deskripsi yang dimuat di Japan Times.
"Ia adalah penunggang kuda yang tak kenal takut, tak ada kuda paling kencang atau medan paling berat yang bisa mengalahkannya. Dengan sangat terampil, dia memainkan pedang dan busurnya, membuatnya setara dengan 1.000 tentara. Ia bahkan sanggup menghadapi dewa atau iblis," demikian diungkap deskripsi tersebut.

Meski garang di medan perang, Tomoe Gozen digambarkan sebagai sosok perempuan yang cantik. "Dengan kulit putih, rambut panjang, dan rupa menawan."


Putri yang Jago Gulat dari Mongolia

Pada Abad ke-13 di Mongolia, ring gulat didominasi seorang perempuan. Tak ada satu pria pun yang mampu mengalahkannya.
Namanya Khutulun, ia adalah cicit Ghengis Khan, sang pendiri Kekaisaran Mongolia yang menaklukkan sebagian besar Asia dan nyaris menginvasi Eropa.
Namun, Khutulun tidak mendompleng nama kakek buyutnya itu. Ia membangun reputasinya sendiri, dari kekuatan dan kehebatannya sebagai pegulat, pemanah dan penunggang kuda

Perempuan berjuluk "putri pegulat" itu mengumpulkan pundi-pundi harta dari kompetisi gulat -- di mana ia mengalahkan setiap pria yang muncul sebagai lawan.
Khutulun juga punya reputasi hebat di medan perang, dengan berperang bersama ayahnya, untuk mempertahankan stepa di Mongolia dan Kazakhstan dari Kublai Khan.
Perannya di medan tempur diamati dan dicatat oleh penjelajah Marco Polo.
Khutulun digambarkan mengendarai kudanya dengan cepat ke arah pasukan musuh, lalu, ia akan menyerang dan meraih tubuh satu tentara tanpa kenal perasaan.
"Seperti elang besar yang menerkam seekor burung kecil, dan membawa mangsanya itu ke ayahnya."




Yaa Asantewaa, Penjaga Bangku Emas

Perempuan bernama Yaa Asantewaa muncul sebagai sebuah kekuatan yang diperhitungkan di tengah kolonialisasi di Afrika pada awal Abad ke-20.
Ia berasal dari wilayah yang awalnya dikuasai suku Asante -- yang pada masa modern ini bernama Ghana.
Asantewaa adalah penjaga bangku emas seremonial, simbol kekuatan penting bagi para penguasa Asante.

Pada 1900, ketika gubernur kolonial Inggris Sir Frederick Hodgson memerintahkan wanita itu, untuk dia duduki. Asantewaa menolak mentah-mentah perintah itu.
"Ia meminta anggota suku Asante memberontak melawan Inggris, memicu perjuangan kemerdekaan yang juga disebut War of the Golden Stool," demikian yang tertera di situs Yaa Asantewaa Museum di Ghana.
"Jika kalian, para pria Asante tak maju, kami yang akan melakukannya. Kami, para perempuan, akan melawan. Aku memanggil semua kamu hawa. Kita akan melawan! Kita akan melawan hingga orang terakhir tumbang di medan perang," kata Asantewaa kepada perwakilan Asante dalam sebuah rapat rahasia, seperti yang dibeberkan pihak museum.
Namun, pemberontakannya dikalahkan Inggris. Asantewaa tewas di pengasingan di Seychelles pada 1921.



Rani Velu Nachiyar



Sejak kecil Rani Velu Nachiyar belajar menggunakan senjata, berlatih seni bela diri, menembakkan anak panah menuju sasaran, juga duel saat naik kuda.
Saat dewasa, perempuan Tamil yang tumbuh besar di Kerajaan Ramnad di India Selatan, menemukan lawannya: penjajah Inggris.
Serangan pasukan Britania Raya pada 1772 ke kerajaannya, menewaskan suami dan putrinya. Nachiyar yang murka oleh dendam membentuk tentara untuk menghadapi penjajah. Pada 1780, pasukannya berhasil memenangkan pertempuran.

Nachiyar disebut-sebut sebagai pemimpin militer pertama yang menggunakan 'bom manusia'. Salah satu perempuan anggota pasukannya sengaja mengguyur minyak ke tubuhnya, membakar diri, dan memicu ledakan di gudang amunisi Inggris.
Kisah Nachiyar diungkap baru-baru ini oleh sejarawan, Kirti Narain, direktur program di Indian Council of Social Science Research, New Delhi.
Narain menemukan dokumen terlupakan yang mengungkap kontribusi perempuan dalam perjuangan kemerdekaan India dari tangan Inggris.
Ia menuliskan kisah Rani Velu Nachiyar dan pejuang perempuan lain dalam bukunya Participation and Position of Women Uprising of 1857: Redefinition of Social Status, Then and Now (Himalaya Publishing House Pvt. Ltd., 2016).



Boudicca

Selama invasi dan pendudukan Romawi atas wilayah Inggris selatan pada Abad I Masehi, muncul seorang perempuan yang terang-terangan melawan.
Boudicca, namanya, memimpin orang-orang Iceni, suku di wilayah Inggris timur, untuk memberontak.
Catatan sejarawan Romawi, Publius Cornelius Tacitus (56 -117 Masehi) mendeskpsikan, Boudicca muncul sebagai pemberontak dan pemimpin perlawanan setelah Romawi merampas tanahnya dan mencabut status sukunya sebagai sekutu -- menyusul meninggalnya sang suami, Raja Iceni Prasutagus, demikian diungkapkan dalam Ancient History Encyclopedia.

Serangan militer yang dipimpin Boudicca meluluhlantakkan kamp-kamp Romawi, Verulamium, Londinium, dan Camulodunum, serta secara brutal membunuh penghuninya.
Namun, pasukan Boudicca hancur dalam Pertempuran Watling Street di dekat Shropshire, pada 61 Masehi, yang mengakhiri perlawanannya terhadap Romawi, demikian menurut Encyclopedia Brittanica.

NYARI TEMPAT JUDI YANG AMAN?
BERGABUNGLAH DI WWW.ARENABETTING88.COM
MINIMAL DEPOSIT HANYA 50RB !!
BONUS DEPOSIT 10%
ROLLINGAN CASINO 0.8%
REFERAL 3% (MENANG KALAH TETAP DAPAT)
WD DAN DEPOSIT CEPAT GA BERTELE2 (5 MENIT PALING LAMA)

Customer Service Arenabetting88:
» SMS: 0821-6500-5947
» PIN BBM : 55A2F781
» Whatsapp : +855-1760-7647
» WeChat : arenabetting88
» Line : arenabetting88
» YM : arenabetting88@yahoo.com
» Layanan Live Chat 24JAM ONLINE
» www.Arenabetting88.com


EmoticonEmoticon